31 Juli 2010

Tes untuk Mengukur Kekuatan Memori Otak

Jakarta (http://health.detik.com), sering lupa meletakkan barang, lupa kata apa yang ingin diucapkan hingga lupa membayar tagihan. Eits, hati-hati mungkin Anda memiliki masalah dengan kemampuan memori di otak. Mari tes memori otak Anda!

Uji memori ini dapat membantu memberikan gambaran yang lebih baik mengenai masalah memori yang dialami. Tes ini hanyalah sebuah tes sederhana mengenai memori.

Seperti dikutip dari Howstuffworks, Sabtu (29/5/2010), cobalah untuk menjawab pertanyaan berikut:

1. Mengingat tiga kata ini apel, televisi dan domba.
2. Mengingat nama dan alamat ini: Jane Jl. Pegangsaan 5 Jakarta Pusat.
3. Apakah mengalami kesulitan dalam mengingat segala hal yang telah dilakukan selama beberapa minggu terakhir?
4. Apakah sangat sulit untuk mengingat daftar yang harus dilakukan?
5. Apakah mengalami penurunan kemampuan menghitung di kepala?
6. Apakah pernah mengalami lupa membayar tagihan?
7. Apakah kesulitan mengingat nama?
8. Apakah mengalami kesulitan mengenali seseorang yang seharusnya Anda kenali?
9. Apakah mengalami kesulitan menemukan kata yang tepat untuk diucapkan?
10. Apakah mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas sederhana, seperti penggunaan microwave atau kompor gas?
11. Apakah mudah lupa ini mengganggu kinerja di tempat kerja?
12. Apakah mudah lupa ini mengganggu kerjaan di rumah?
13. Apakah mudah lupa ini mengganggu kerjaan di dalam kegiatan sosial?
14. Sebutkan tiga nama gubernur di provinsi Anda? (menyebutkan 3 maksimal dapat 3 poin, sebut 1 dapat 1 poin)
15. Sebutkan lima presiden terakhir? (menyebutkan 5 maksimal dapat 5 poin, sebut 1 dapat 1 poin)
16. Apa menu makan malam selama dua hari yang lalu? (maksimal 6 poin, sebut 1 dapat 1 poin)
17. Apa dua film yang terakhir Anda tonton? (maksimal 2 poin, sebut 1 dapat 1 poin)
18. Tuliskan kembali tiga kata yang ada di awal tes? (maksimal 3 poin, sebut 1 dapat 1 poin)
19. Tuliskan nama dan alamat yang ada di awal tes? (maksimal 2 poin, jika hanya nama atau alamat yang disebut dapat 1 poin)

Berilah nilai 1 poin setiap jawaban 'tidak' dan tidak mendapat poin jika jawabannya 'Ya'. Untuk pertanyaan no 3-13 (maksimal nilainya 11 poin).

Sedangkan untuk setiap pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan benar atau ragu-ragu berilah nilai 1 poin. Untuk pertanyaan no 14-19 (maksimal nilainya 21 poin).

Hasil tes:
Jika nilai 28-32: memori yang dimiliki masih baik dan di atas rata-rata.
Jika nilai 22-27: memori tidak terlalu buruk, tapi memori bisa ditingkatkan dengan beberapa latihan.
Jika nilai 15-21: memori agak lemah, usahakan untuk melakukan latihan dalam membantu meningkatkan memori.
Jika nilai 0-14: memori lemah, sebaiknya mempertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan ke ahlinya.

Berbagai faktor bisa menyebabkan masalah pada memori, seperti stres, depresi, kekurangan vitamin dan adanya masalah pada peredaran darah.

Jika penyebab ini bisa ditemukan, maka masalah memori dapat teratasi dan mendapatkan hasil yang lebih baik.

30 Juli 2010

Surat Kecil Untuk Tuhan

Novel Surat kecil untuk Tuhan ( True story Gitta sessa wanda cantika )
Adalah sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata keke, seorang gadis remaja Indonesia yang telah meninggal tahun 2008 karena kanker ganas. Buku ini terjual lebih dari 50.000 exp, tahun 2011 telah diadaptasi ke layar lebar. Kisah Keke pernah di ulas dalam acara kick Andy dan ribuan air mata telah berjatuhan setelah membaca kisahnya.
( Buku ini bisa didapatkan di seluruh toko buku di indonesia dengan harga 38.800 ( bonus cd), sebagian penjualan buku akan disumbangkan ke yayasan kanker. filmnya akan ditayangkan pada 15 feburary 2011)
Hai Sobat, namaku Keke. Umurku 13 tahun ketika aku divonis mengalami penyakit kanker ganas bernama Rabdomiosarkoma, sulit bagiku untuk mengerti penyakit apa yang menyerang bagian wajahku itu bahkan untuk menyebut ulang nama penyakit itu, aku sangat kesulitan. Dokter bilang aku terkena kanker jaringan lunak yang sangat langkah dan menjadi orang pertama di Indonesia yang mengalami penyakit itu.
Aku sedih ketika ayahku menangis menolak permintaan dokter untuk melakukan operasi di wajahku. Dokter bilang: bila aku tidak melakukan operasi, maka hidupku tidak akan bertahan lama lebih dari 3 bulan. Aku sangat terkejut, karena penyakit itu tidak memiliki tanda-tanda apapun selain aku mengalami sakit mata yang diikuti dengan mimisan yang terjadi selama seminggu. Kanker itu hanya seukuran kuku jariku dan bersarang di bagian pelipis mataku, tapi operasi itu mengharuskan aku kehilangan sebagian wajah kiri dan mataku.
Ayahku tentu tidak akan rela aku kehilangan bagian wajahku karena aku adalah seorang anak gadis yang akan tumbuh dewasa bagaimanapun kelak. Aku tidak pernah paham seberapa menakutkan penyakit itu hingga aku merasakan sendiri bagian wajahku mulai membengkak sebesar bola tenis dan buta. Ketika aku menangis merasakan kesakitan, ayahku tidak pernah mau jujur mengatakan penyakit itu. Hingga akhirnya aku berjuang hidup selama 3 bulan mencari pengobatan tradisional dan seseorang ulama mengatakan padaku aku terserang kanker.
Perasaanku saat itu sangat hancur, aku tau hidupku tidak akan lama lagi dengan keadaan buta dan kehilangan pernafasan hidung sebelah kiriku. Aku menangis dan protes kepada Tuhan, mengapa ia tega merenggut masa remajaku dan kesempatanku untuk menjadi penyanyi dan model. Air mata yang berjatuhan setiap harinya tak pernah kulewatkan ketika rasa sakit kanker itu datang. Walau demikian aku sungguh beruntung, sahabat-sahabatku, keluargaku dan kekasihku selalu ada disampingku untuk memberikan dukungan tanpa henti.
Ketika aku mulai pasrah Tuhan menjemputku, Aku hanya berdoa berharap kepada Tuhan agar ia memberikan aku waktu lebih lama di dunia ini untuk mengucapkan selama berpisah dengan sahabat, kekasihku dan terutama untuk membuat ayahku bahagia lebih lama.Disaat itu aku tidak mampu berdiri dan mengalami kritis. Tuhan mendengar doaku, disaat itulah aku mendapatkan sebuah mujizat, seorang dokter menyelamatkanku dari penyakit itu disaat-saat terakhir hidupku. aku sembuh dan kanker diwajahku menghilang secara ajaib.
Aku merasakan kebaikan tuhan padaku dan melawan vonis kematian yang dikatakan dokter padaku, aku pun berjanji padanya mulai saat itu untuk bersyukur akan kehidupan yang ia berikan padaku. Usai penyakit itu hilang dalam hidupku, Aku melewatkan hari-hariku dengan bahagia bersama keluarga dan teman-temanku, aku menghabiskan waktuku dengan belajar kitab suci dan mendekatkan diriku pada Tuhan. Hidup-hidupku pun berlalu dengan bahagia walaupun pada akhirnya hal yang tak kuharapkan terjadi lagi dalam hidupku ketika kanker itu kembali padaku, kini ia menyerang wajah sebelah kananku.
 
Disaat aku mendapatkan vonis itu kembali, aku tidak lagi takut dan aku tidak lagi marah kepada Tuhan. Aku bersyukur padanya, ia memberikan aku kesempatan lebih lama di dunia ini untuk dapat bersama sahabat, keluargaku dan kekasihku.Walau air mata berjatuhan disampingku, aku berusaha untuk tegar dan mengatakan kepada semua orang, kalau ujian dalam hidupku adalah tanda sayang Tuhan kepadaku.
Dokter yang menyelamatkan hidupku pertama kalinya menyerah, ia tidak sanggup lagi menyelamatkanku. Aku hanya tersenyum dan berjanji untuk bertahan hidup hingga aku bisa melewatkan ujian terakhirku di dunia ini agar bisa lulus di bangku SMP. Walau aku buta dan lumpuh, aku berjanji pada Tuhan dan sahabat-sahabatku untuk lulus dan memakai seragam SMA.
Sobat, hidup adalah anugerah yang indah. Atas kebaikan Tuhan, aku mampu mengikuti ujian sekolah dengan kondisiku yang semakin parah. Aku bersyukur karena bisa lulus dengan baik dan sampai akhirnya mampu memakai seragam rok abu-abu bersama sahabat-sahabatku walau hanya sehari disaat sebelum aku harus dilarikan ke rumah sakit karena darah terus mengalir di hidungku.Kematianku semakin dekat dan itu bisa kurasakan disaat hembusan nafasku semakin berat.
Tapi aku tidak ingin pergi dari dunia ini tanpa menuliskan suratku kepada Tuhan..surat yang telah membuatku hidup sebagai seorang gadis yang berjuang untuk hidup dan ribuan anak-anak lain yang mengalami penyakit kanker yang sama denganku.
Aku berharap ketika aku tidak ada lagi di dunia ini, kisahku menjadi inspirasi bagi siapapun yang ada di dunia ini untuk bersyukur akan hidup. Karena Tuhan begitu mencintai kita dengan cobaannya.
Sobat.. bila ada tawa di dunia ini, maka akan ada tangis disampingnya.
In memorial gitta sessa wanda cantika.
Surat Kecil Untuk Tuhan
Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini.
Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku berharap tidak ada lagi hal yang sama terjadi padaku,
terjadi pada orang lain.
Tuhan…
Bolehkah aku menulis surat kecil untuk-Mu
Tuhan…
Bolehkah aku memohon satu hal kecil untuk-Mu
Tuhan…
Biarkanlah aku dapat melihat dengan mataku
Untuk memandang langit dan bulan setiap harinya..
Tuhan…
Izinkanlah rambutku kembali tumbuh, agar aku bisa menjadi wanita seutuhnya.
Tuhan…
Bolehkah aku tersenyum lebih lama lagi
Agar aku bisa memberikan kebahagiaan
kepada ayah dan sahabat-sahabatku
Tuhan…
Berikanlah aku kekuatan untuk menjadi dewasa
Agar aku bisa memberikan arti hidup
kepada siapapun yang mengenalku..
Tuhan ..
Surat kecil-ku ini
adalah surat terakhir dalam hidupku
Andai aku bisa kembali…
Ke dunia yang Kau berikan padaku..
In memorial,
Gita Sesa Wanda Cantika.
19/06/91-25/12/06

29 Juli 2010

Agnes Monica - Karena Ku Sanggup Lirik

Agnes Monica - Karena Ku Sanggup

Biarlah ku sentuhmu
Berikanku rasa itu
Pelukmu yang dulu
Pernah buatku
Ku tak bisa paksamu
‘tuk tinggal disisiku
Walau kau yang selalu sakiti
Aku dengan perbuatanmu
Namun sudah kau pergilah
Jangan kau sesali 

[Chorus]
Karena ku sanggup walau ku tak mau
Berdiri sendiri tanpamu
Ku mau kau tak usah ragu
Tinggalkan aku
Huuu.. kalau memang harus begitu
Tak yakin ku kan mampu
Hapus rasa sakitku
Ku ‘kan selalu perjuangkan cinta kita
Namun apa salahku
Hingga ku tak layak dapatkan kesungguhanmu

[Back to Chorus]

Tak perlu kau buatku mengerti
Tersenyumlah karena ku sanggup
 

Download MP3 Disini
Jangan lupa beli CD aslinya ya...

Agnes Davonar

Agnes Davonar (Image from Agnes Davonar)


FIANZONER bangga dengan semangat dan perjuangan Agnes Davonar (novelis bersaudara) yang tentu saja menjadi pemacu bagi kita untuk terus berjuang dan berkarya dalam keadaan apapun. Sumber terkait  bisa Anda dapatkan di http://fajar-aryanto.blogspot.com/2010/04/agnes-davonar-novelis.html atau langsung meluncur ke http://lieagneshendra.blog.friendster.com/ . Selamat membaca...


Kanker Sebagai Cobaan dan Kesuksesan

Sempat bersembunyi di balik nama Agnes Davonar, sosok penulis novel best seller ini pun lantas muncul di depan para penggemarnya. Banyak orang menyangka bahwa Agnes Davonar adalah nama dari satu orang penulis, tapi ternyata merupakan gabungan dua orang kakak beradik yang menyatukan ide dalam tulisan. Hingga saat ini, novel bertajuk ‘Surat Kecil Untuk Tuhan’ telah mampu menarik perhatian para pencinta novel tak hanya dalam negeri saja, tapi juga di luar negeri. Lalu bagaimana kisah kakak beradik yang semasa kecilnya hidup dalam keterbatasan ini?
Tuhan…
Andai aku bisa kembali…
Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini…
Tuhan…
Andai aku bisa kembali…
Aku tidak ingin ada hal yang sama terjadi padaku terjadi pada siapapun…
Tuhan…
Bolehkah aku menulis surat kecil untukMu Tuhan…
(diambil dari Surat Kecil Untuk Tuhan, karya Agnes Davonar)
Tulisan yang diambil dari novel keduanya tersebut sempat membuat para pembacanya terhanyut dalam kesedihan. Novel yang diangkat dari sebuah kisah nyata anak yang terkena kanker itu kemudian laris di pasaran bak kacang goreng. Nama Agnes Davonar sebagai penulisnya lantas mulai dikenal orang sebagai novelis yang cukup diperhitungkan. Ternyata perjalanan hidup sang penulis tak jauh berbeda dengan kisah sedih yang ditulisnya itu. Tak jarang pula, pertolongan Tuhan muncul di sepanjang hidup yang mereka jalani.
Kakak Beradik. Ditemui di salah satu kafe di sebuah mal di Jakarta Barat beberapa waktu lalu, kedua kakak beradik yang mengusung nama Agnes Davonar nampak sumringah saat bertemu dengan Realita
 
Agnes Davonar merupakan gabungan nama antara kakak beradik yang lahir dari sebuah keluarga dengan kondisi berkecukupan pada awalnya. Sang kakak, Agnes Li terlahir pada 7 Oktober 1986. Sedangkan adiknya, Teddy Li lahir pada 8 Oktober 1989. Keduanya merupakan anak dari pasangan mendiang Ng Bui Cui dan Bong Nien Chin (56). Sang ayah berprofesi sebagai seniman pembuat tulisan kaligrafi Cina. Sedangkan ibunya kerap membantu penghasilan keluarga dengan membuat berbagai macam kue penganan kecil. 
 
Ng Bui Cui sebenarnya berasal dari Taiwan dan hijrah ke Indonesia pada tahun 1980-an. Di Kalimantan, tepatnya di daerah Singkawang, ia bertemu dengan wanita yang kemudian dinikahinya. Lahirlah anak sulung, Angel Li pada tahun 1984. Dua tahun kemudian, Agnes pun lahir ke dunia di Pontianak. Saat Agnes duduk di bangku kelas 1 SD, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan memulai kehidupan baru sambil sang ayah kembali menjual tulisan kaligrafi Cina buatannya. Barulah pada tahun 1989, Teddy Li lahir di Jakarta. Awalnya, kehidupan keluarga disokong oleh pekerjaan sang ayah menjual kaligrafi Cina. 
 
Agnes sendiri mengenyam pendidikan SD hingga SMA di Pelita, Jakarta Barat. Setelah lulus SMA, Agnes kemudian memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Universitas Bina Nusantara, Jurusan Sastra Mandarin. Sedangkan Teddy yang usianya lebih muda tiga tahun, menempuh pendidikan di SD Pelita. Selepas menamatkan pendidikan SD-nya, Teddy melanjutkan ke SMP dan SMA Bhinneka, Jakarta.  
 
Kanker Merenggut Ayahnya. Kondisi keuangan keluarga yang awalnya tercukupi dengan penghasilan sang ayah, lantas berubah drastis. “Ayah kita sebenarnya sudah mulai sakit-sakitan,” aku Teddy, sang adik. Namun, sang ayah sendiri tak pernah menunjukkan tubuhnya yang sakit kepada keluarganya. Hingga akhirnya tahun 2002, sang ayah divonis menderita penyakit kanker paru-paru yang sudah kronis. 
 
Seiring berjalannya waktu, kondisi tubuh Ng Bui Cui tak mengalami perbaikan. Sebaliknya, ia justru semakin tak berdaya melawan penyakit kanker yang terus menggerogoti tubuhnya. Namun, pihak keluarga justru tak menyangka sebelumnya lantaran sang ayah yang selalu memperlihatkan tubuhnya seakan-akan masih sehat. Mereka justru yakin kondisi tubuh ayahnya akan mencapai kesembuhan. Kenyataan justru berkata lain, selang tiga bulan setelah divonis, nyawa sang ayah akhirnya menyerah terhadap penyakitnya yang semakin mengganas. 
 
Selain menyisakan kepedihan yang teramat dalam, kepergian sang ayah juga cukup menggoyahkan keuangan keluarga. Sang tulang punggung keluarga tak lagi ada di sisi mereka. Istri yang sekaligus ibu dari Agnes dan Teddy pun memutar otaknya untuk menghidupi ketiga anaknya. Keahlian membuat tulisan kaligrafi Cina tak menurun kepada ketiga anaknya. Sehingga, ketiga anaknya tersebut tak mampu melanjutkan bisnis mendiang sang ayah. 
 
Menjajakan Kue. Alhasil, ibunya lantas berusaha menghidupi ketiga anaknya dengan menjajakan kue penganan kecil buatannya. “Dulu, pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah, kita sudah terbiasa mengantarkan kue,” kenang Agnes. Kebiasaan itu terpaksa dijalani agar mereka dapat hidup sepeninggal sang ayah. Kondisi keuangan yang semakin goyah ternyata harus berakibat buruk pada pendidikan Agnes. “Saya berhenti kuliah ketika semester 2,” aku Agnes. Ketiadaan biaya untuk membayar kuliah yang cukup mahal menjadi alasan utama Agnes keluar dari kuliahnya.
Berhenti kuliah memang membuat Agnes tak kuasa menahan rasa sedihnya. Namun, tak ada lagi sisa uang yang dapat dipergunakan untuk membayar kuliah di Universitas Bina Nusantara. Demi berputarnya roda kehidupan keluarga, lambat laun Agnes mampu menerima kenyataan tersebut. Ketiga kakak beradik, Angel, Agnes dan Teddy lantas bertekad untuk mencari penghasilan demi membantu kehidupan keluarga. Begitu pula yang dilakukan oleh ibu mereka dengan memutuskan menjadi seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Taiwan. Merasa kebutuhan keluarga tak tercukupi dengan hanya menjual penganan kecil, sang ibu akhirnya merelakan tak bertemu dengan ketiga anaknya untuk bekerja di negeri seberang. Di Taiwan, sang ibu bekerja sebagai seorang perawat dari seorang kakek renta. Penghasilannya dapat mencukupi kehidupan ketiga anaknya yang ditinggal di Jakarta. Sejak akhir tahun 2002 hingga 2005, sang ibu merantau di Taiwan. 
 
Setiap bulan, sang ibu selalu mengirimkan hasil kerja payahnya di Taiwan. Di Jakarta sendiri, Agnes yang sudah putus kuliah lantas berusaha mencari pekerjaan. Teddy yang masih duduk di bangku SMA pun melakukan hal yang sama. Meski, keahlian menulis petuah dalam kaligrafi Cina tak dimiliki Agnes dan Teddy, kepiawaian seni menulis ternyata telah menjadi bakat terpendam kedua kakak beradik ini. Terlebih lagi, selepas sang ayah meninggal. “Meninggalnya ayah menjadi inspirasi tersendiri bagi kita untuk menulis,” ungkap Teddy yang diiyakan Agnes. 
 
Awalnya, Agnes dan Teddy menulis novel dan berusaha menawarkan ke berbagai penerbit agar mendapatkan penghasilan tambahan guna membantu penghidupan keluarga. Tapi, dari sekian kali menawarkan hasil tulisan, seluruhnya ditolak oleh pihak penerbit. Kegagalan demi kegagalan selalu menjadi ujung yang mengecewakan bagi keduanya. “Ternyata menulis untuk mendapatkan uang itu adalah kesalahan terbesar kita,” ungkap Teddy. Mereka pun mulai mengubah tujuannya menulis. Pertengahan tahun 2007, Agnes dan Teddy mulai menulis di internet melalui blog Friendster yang mereka buat sendiri. 
 
Tulisan novel atau cerita yang dimasukkan ke dalam blog, diakui Teddy merupakan hasil pengalaman kehidupan pribadi dan orang lain. Dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh banyak orang, puluhan cerita diposting ke blog. Seiring makin banyaknya tulisan yang mereka masukkan ke dalam blog, semakin banyak pula orang yang membaca hasil tulisan keduanya. “Dalam waktu 6 bulan, kita sudah menghasilkan 12 cerpen dan 1 novel online,” aku Teddy. Sejak awal, Agnes dan Teddy sepakat untuk mengusung nama Agnes Davonar sebagai nama gabungan keduanya. Titik ledak ketenaran Agnes Davonar terjadi saat menelurkan novel online kontroversial yang menceritakan kisah sebuah lagu yang dibuat oleh sosok gadis bernama Geby yang bunuh diri karena patah hati. “Itu novel kita yang paling fenomenal,” ujar Agnes. 
 
Kanker Menjadi Best Seller. Nama Agnes tentunya diambil dari nama Agnes sendiri. Sedangkan Davonar sebagai identitas nama bagi Teddy diambil dari nama seseorang yang pernah memiliki kedekatan dengan kedua kakak beradik ini. Bahkan blog Friendster milik Agnes Davonar mampu menyabet peringkat pertama yang paling banyak dikunjungi orang dari sebuah web top100.com. Cerita yang menarik dengan gaya penulisan khas anak muda sudah menjadi ciri khas karya Agnes Davonar. Nama Agnes Davonar menjadi bahan perbincangan di forum-forum dunia maya. Ketenaran lantas mulai diraihnya setelah menerbitkan novel keduanya bertajuk ‘Surat Kecil Untuk Tuhan’ pada pertengahan tahun 2008. Novel yang diangkat dari kisah nyata seorang anak bernama Keke yang telah meninggal akibat penyakit kanker tersebut telah menjadi best seller tak hanya di dalam negeri saja. Di Taiwan, novel itu laris di pasaran. 
 
Awalnya kisah Surat Kecil Untuk Tuhan ditulis di dalam blog Agnes Davonar. Banyak pembaca blognya yang memuji cerita tersebut. Alhasil, cerita itu dibuat dalam bentuk buku. Seperti halnya di blog yang mengundang banyak pembaca, novelnya pun laris di pasaran. Terlebih lagi, setelah tampil di sebuah acara talkshow di salah satu televisi swasta. Saat menulis novel perdananya tersebut, Agnes dan Teddy tak jarang menitikkan air mata karena kesedihan yang sangat tergambar jelas dari kisah nyata itu. Apalagi, kanker juga pernah merenggut sang ayah, yang sangat mereka cintai. 
 
Bagi Agnes dan Teddy, inspirasi yang datang dari meninggalnya sang ayah karena kanker telah menjadi inspirasi dan motivasi yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesuksesan yang mulai diraihnya saat ini. Tak hanya itu saja, perjalanan hidup yang sempat menghantarkan Agnes dan Teddy dalam sebuah kondisi yang kekurangan dan kemudian diubah menjadi kehidupan yang sangat mencukupi, merupakan sebuah mukjizat dari Tuhan. Mereka tak pernah membayangkan hanya dalam waktu tak lebih dari dua tahun dapat mengeluarkan dua novel yang sukses dalam hal tingkat penjualan. 
 
Seandainya, sang ayah masih ada dan melihat hasil karya kedua anaknya, Agnes dan Teddy akan sangat bahagia karena telah membanggakan ayahnya. Namun, keduanya patut bersyukur dengan apa yang didapat dengan cara menghasilkan karya yang berkualitas bagi masyarakat. “Tahun ini, kita akan meluncurkan tiga buku lagi,” ujar Teddy. “Kita juga berencana akan membuat skenario film,” ungkap Agnes menambahkan.