Tampilkan postingan dengan label Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar. Tampilkan semua postingan

02 Agustus 2011

6 Suntikan Motivasi Setelah Dipecat


Jum'at kemarin FIANZONER mendapati rekan kerja yang mengalami pemecatan. Hal yang terjadi begitu tiba-tiba karena alasan yang tidak mudah diterima, dengan lapang dada akhirnya "berpisah". Yah, semoga tidak larut dalam kesedihan, bangkit jalani hidup dengan penuh semangat!!! Artikel dari Kapanlagi.com berikut ini semoga saja bisa membantu dan bermanfaat...

Tak selamanya karir berjalan mulus. Setelah mengalami pemecatan, apa yang harus dilakukan?

KapanLagi.com - Pemecatan yang dilakukan oleh perusahaan terhadap Anda, apapun alasannya, bukan hal yang mudah untuk diterima. Tidak hanya Anda yang merasakan hal tersebut, ada banyak orang yang mengalami kasus pemecatan, mulai dari PHK karena perusahaan merugi, pemecatan karena ada orang yang lebih kompeten untuk menggantikan sebuah posisi, bahkan pemecatan karena unsur kriminalitas.

Bila Anda mengalami pemecatan oleh perusahaan di mana Anda bekerja (jika alasannya bukan kriminalitas), Anda bisa saja menangis, malu, marah, bahkan berpikir bagaimana mungkin posisi Anda digantikan seseorang yang tidak tampak lebih baik daripada Anda. Yang harus Anda lakukan adalah menerima keputusan perusahaan bahwa Anda sudah tidak bisa bergabung bersama mereka. Lalui masa-masa setelah pemecatan dengan cara ini agar Anda bisa segera bangkit untuk meniti karir baru yang lebih baik.



Segera Beritahu Keluarga

Setelah Anda keluar dari kantor dan mendapat surat pemberitahuan bahwa Anda dipecat, segera beritahu keluarga Anda. Menunda tidak akan membuat keadaan lebih baik. Jika keluarga Anda tahu bahwa Anda dipecat, maka Anda tidak akan sendirian menghadapi semua ini. Pertanyaan umum seperti, "Lalu siapa yang akan membayar cicilan rumah kamu?", atau "Tapi kan bunda janji liburan nanti kita jalan-jalan?" adalah pertanyaan yang wajar. Yakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja dan Anda mampu mengatasi hal tersebut.

Hindari Pelampiasan Tak Sehat

Seringkali rasa menyesal, takut dan kecewa yang sangat berat menghantui kehidupan Anda setelah dipecat. Ditambah lagi jika Anda sulit untuk mendapat pekerjaan baru setelahnya. Pastikan Anda tidak merusak diri dengan mengonsumsi makanan tidak sehat dan meminum alkohol sebagai pelampiasan, hal-hal itu justru akan memperburuk kondisi mental dan fisik Anda. Isi hari-hari dengan rutinitas sehat sekaligus mencari kesempatan untuk mendapat pekerjaan baru yang lebih baik.

Lihat Kenangan Sukses Anda

Saat ini, Anda berpikir bahwa Anda sedang gagal. Itu wajar, tetapi mau sampai kapan Anda berpikir demikian dan tidak mengambil langkah untuk menjalankan roda kehidupan Anda agar kembali bergerak? Putar kembali ingatan Anda saat kesuksesan Anda raih, saat hari kelulusan Anda, saat Anda diterima bekerja, saat Anda berada pada posisi yang cemerlang. Anda bisa kembali pada masa itu dan jadikan sebagai motivasi Anda bisa meraih semua kesuksesan tersebut (kembali).



Cari Kesempatan, Perbanyak Masukan Informasi

Jika Anda memutuskan bahwa Anda tetap harus meniti karir sekalipun mengalami pemecatan, maka jangan hanya diam merenungi nasib. Kesempatan tidak datang begitu saja mengetuk pintu rumah Anda, Anda yang harus mencarinya. Bagaimana caranya? Perbanyak membaca surat kabar, browsing internet dan perbanyak relasi atau bergabung dalam sebuah komunitas. Semakin banyak informasi yang Anda dapatkan, kesempatan untuk meniti karir akan semakin lebar.



Gali Lebih Jauh, Mengapa Anda Dipecat?

Apakah Anda telah mengetahui dengan jelas mengapa Anda dipecat? Bisa jadi perusahaan Anda hanya mengatakan, "Anda tidak bisa bergabung lagi dengan kami,". Tetapi coba gali lebih jauh mengapa Anda dipecat! Apakah ada seseorang yang menggantikan Anda, mengapa demikian, apakah ada yang kurang dari sikap profesional dan kemampuan Anda dalam menyelesaikan tugas-tugas kantor? Gali lebih dalam agar bisa menjadi pegangan dan pelajaran agar Anda tidak mengalami hal yang sama untuk kedua kali.

Jangan Menjelek-Jelekkan Kantor Lama

Anda bisa memasukkan perusahaan lama (yang memecat Anda) dalam CV. Biasanya, perusahaan yang memanggil Anda untuk wawancara menanyakan mengapa Anda meninggalkan perusahaan tersebut. Katakan saja bahwa Anda dipecat dan beritahu mereka alasannya. Karena pewawancara bisa menghubungi kantor lama Anda untuk menanyakan alasan pemecatan Anda. Jangan pernah menjelek-jelekkan perusahaan lama Anda pada pewawancara, karena itu akan menurunkan sikap profesional Anda.

29 Juli 2011

Ciri-ciri Anak Jenius


Beberapa Ciri Anak Jenius menurut Joseph Renzulli (1986) dalam blog e-psikologi , anak yang jenius itu memiliki ciri-ciri mental sebagai berikut:
  1. Punya kemampuan yang luar biasa (above-average) dalam bentuk kelebihan di bidang tertentu atau di bidang umum
  2. Punya kemampuan yang bagus dalam menangani suatu tugas dengan komitmen dan motivasi yang luar biasa
  3. Punya kreativitas yang luar biasa hebatnya 

Selain punya ciri-ciri mental di atas, hasil study Dr. Linda Silverman (1997-2007) dalam blog e-psikologi, direktur Gifted Development Center, Canada, mengungkapkan ciri-ciri lain, seperti  di bawah ini:
  • Punya kemampuan bernalar yang bagus
  • Bisa belajar dengan cepat
  • Punya perbendaharan kata yang luas
  • Punya kemampuan mengingat yang bagus
  • Bisa konsentrasi lama pada hal-hal yang menarik bagi dirinya
  • Sensitif perasaannya dan mudah merasa “tertusuk”
  • Cepat menunjukkan rasa peduli
  • Perfeksionis
  • Intensif
  • Punya kepekaan moral
  • Punya rasa ingin tahu yang tinggi
  • Punya minat yang kuat
  • Punya stamina yang bagus
  • Lebih suka bergaul dengan yang lebih tua / dewasa
  • Punya banyak minat di beberapa hal
  • Lucu dan “gemesin”
  • Suka membaca
  • Perhatian terhadap rasa keadilan dan fairness
  • Bisa mengambil keputusan dengan matang untuk anak yang seusianya
  • Suka mengamati
  • Gemar berimajinasi
  • Punya banyak  akal
  • Cenderung suka mempertanyakan otoritas
  • Punya kecakapan dalam hitung-menghitung
  • Bagus dalam permainan jigsaw puzzles atau yang semisalnya

Bagi kita yang melihat anaknya menampilkan sebagian atau keseluruhan ciri-ciri atas, perlu kita baca sebagai petunjuk untuk mengungkap atau perlu kita syukuri dengan memfasilitasinya, bukan memupuskannya.  Kata Buckminster Fuller, yang paling sering memupuskan kejeniusan anak-anak adalah orang dewasa di sekitarnya. Banyak orangtua yang malah bingung melihat anaknya yang sensitif dengan otoritas, misalnya protes terhadap keadilan atau perlakuan yang fair. Padahal, itu bisa kita baca sebagai petunjuk jangan-jangan kita dikasih rejeki anak yang hebat melebihi kita. Siapa tahu ‘kan? Sebab, jika melihat fakta di lapangan, seringkali anak jenius itu dilahirkan Tuhan dengan sebab-sebab yang sangat tersembunyi. Ada yang lahir dari keluarga gedongan, tapi ada juga yang lahir di rumah kontrakan. Ada yang lahir dari orangtua terdidik, tapi ada yang  tidak. Dan seterusnya dan seterusnya.

Oleh karena itu jika kita mempunyai putra yang mempunyai ciri tersebut diatas, maka yang wajib kita lakukan adalah
  1. Mengarahkan bukan mengatur
  2. Membimbing bukan mendikte
  3. Beri kesempatan berkreatifitas bukan mematikan kreatifitas
  4. Memfasilitasi kebutuhannya bukannya melarang dan menakutinya
  5. Beri kesempatan berbicara bukan membatasinya
itulah kewajiban kita sebagai orang tua atau guru jika memiliki anak/murid yang mempunyai seperti di atas.

Salam sukses orang tua dan guru Indonesia

Oleh Mudzakkir Hafidh @ http://ideguru.wordpress.com/2010/04/21/ciri-ciri-anak-jenius/

25 Juni 2011

Mengenal Cara Kerja Alat Deteksi Kebohongan / Lie Detector


Penggunaan teknologi canggih di bidang penegakan hukum, semisal LIE DETECTOR untuk mengungkap tingkat kebohongan tersangka, membuat kita semua bertanya-tanya bagaimana cara kerjanya.

Nah ane tertarik mengulas bagaimana prinsip kerja alat tersebut.sama dengan pesatnya teknologi. Terdapat dua jenis pencatat kebohongan ini, yang berupa digital yang sudah terkomputerisasi dan ada yang berupa sebuah papan mesin portabel.

LIE DETECTOR Digital
LIE DETECTOR Portabel

Orang-orang berbohong dan menipu orang lain karena berbagai alasan. Paling sering, BERBOHONG adalah mekanisme pertahanan yang digunakan untuk menghindari masalah dengan hukum, atasan atau figur otoritas. Terkadang, Anda dapat mengetahui bahwa seseorang itu berbohong, tetapi lain waktu mungkin tidak begitu mudah. Polygraphs, atau yang biasa disebut “detektor kebohongan/lie detector” adalah alat yang memantau seseorang melalui reaksi fisiologis.

Tampak bagian jari jari orang yang di tes
di pasangi sebuah sensor yang terhubung ke mesin

Sebuah instrumen poligraf pada dasarnya adalah kombinasi alat-alat medis yang digunakan untuk memantau perubahan yang terjadi dalam tubuh. seseorang akan ditanya tentang peristiwa atau kejadian tertentu, para pemeriksa (operator alat lie detector sekaligus biasanya seorang penyidik atau forensic psychophysiologist ) tampak melihat bagaimana detak jantung, tekanan darah, laju pernapasan dan aktivitas elektro-dermal (keringat, dalam kasus ini jari-jari) perubahan perbandingan tingkat normal.

Fluktuasi mungkin menunjukkan bahwa orang ini sedang menipu atau berbohong. Lie Detector mendeteksi adanya kebohongan dari sistem gelombang. bila seseorang bohong maka gelombang akan bergetar cepat. sebaliknya jika seseorang jujur, maka gelombang tidak bergetar dengan cepat dan tidak terdeteksi oleh Lie Detector

Saat seseorang melakukan sebuah tes kebohongan, maka orang tersebut akan dipasangkan 4 sampai 6 sensor, dan dihubungkan dengan sebuah gambar grafik yang menunjukkan hasil hasil dari pertanyaan yang diajukan. Sensor sensor tersebut biasanya merekam aktifitas seperti yang disebutkan diatas. Kadang-kadang poligraf juga akan mencatat hal-hal seperti gerakan lengan dan kaki.

Ketika tes poligraf dimulai, sang investigator atau penanya akan memberi 3-4 pertanyaan yang simpel dan sederhana dengan jawaban yang diketahui dengan tujuan untuk membentuk suatu fisiologis “dasar”. setelah itu beranjak ke pertanyaan berat yang kemudian indikatornya bisa ditampilkan dalam sebuah grafik naik turun mirip sebuah sesimograph pencatat gempa.


Keterangan gambar:

Tampak diagram yang ditampilkan dalam bentuk garis garis yang menandakan alur pernafasan kita (respiration rate).


Line kedua adalah bagaimana kondisi ujung jari kita saat tes berlangsung (mengcakup keringat yang ada di jari) dan line ketiga adalah kondisi tekanan darah pada saat pemeriksaan.
Tampak diatas sensor-sensor juga dipasang
di sekitar dada dan lengan
untuk mendeteksi nadi dan jantung

Berikut sensor-sensor yang terpasang ke tubuh kita saat melakukan sebuah tes kebohongan:

1. Sensor Respiratory Rate (Pneumographs)
Berwujud tabung karet yang berisi udara dan di ikatkan mengelilingi area perut/dada. Ketika dada atau otot-otot perut mengembang, udara di dalam tabung dipindahkan dalam bentuk grafik pada layar. Tanda di kertas bergulir jika subjek mengambil napas. Poligraf digital juga menggunakan Pneumographs, tetapi menggunakan Transduser untuk mengubah energi udara yang dipindahkan ke sinyal elektronik.

2. Sensor Tekanan Darah
Sebuah alat pengukur tekanan darah ditempatkan sekitar lengan (mirip alat tes tekanan darah pada medis). Alat ini mencatat perubahan-perubahan dalam tekanan darah dan dengan sebuah alat data tersebut dikirim dan dimunculkan dalam Grafik.

3. Galvanic Skin Resistance (GSR)
Ini juga disebut pencatat aktivitas elektro-dermal dan pada dasarnya adalah pengukur dari keringat di ujung jari anda (di pasang 2 sensor di ujung jari anda). Ujung jari adalah salah satu daerah yang paling berpori pada tubuh dan indikasinya adalah jika kita berkeringat maka kita sedang dalam tekanan dan alami muncul disaat orang berbohong. Fingerplates yang disebut galvanometers, melekat pada dua dari jari-jari subjek. sensor ini mengukur kemampuan kulit untuk menghantarkan listrik. Ketika kulit terhidrasi (seperti keringat), itu menghantarkan listrik jauh lebih mudah daripada saat kering dan semua data data ini tercatat pula di grafik.

Sumber: Kabaena.forumplatinum.com dan Kaskus.us

22 Juni 2011

Renungan Mengapa Harus Ada Pelajaran Matematika ?


Suatu saat ada siswa bertanya, mengapa harus ada pelajaran matematika di sekolah?
Melihat dari mimik mukanya dan mendengar nadanya bertanya, saya lebih cenderung untuk menyatakan, bahwa siswa tersebut bertanya karena kesal, daripada benar-benar ingin tahu sebabnya mengapa.

Dia kesal karena pelajaran matematika baginya dirasakan lebih banyak menyusahkannya daripada menyenangkannya. Pelajarannya susah dimengerti, PR nya susah dikerjakan, lagipula banyak jumlahnya. Belum lagi bapak-ibu guru sering memasang wajah 'seram' dengan harapan dapat lebih berwibawa (?). Dia juga rupanya tidak tahu apa gunanya belajar matematika itu. Pokoknya dia merasa sama sekali tidak tertarik dan tidak butuh akan pelajaran tersebut.




Memang dari dulu sampai sekarang pelajaran matematika umumnya dijauhi dan dihindari anak-anak. Mengapa? Mungkin beda pandangan terhadap pelajaran tersebut antara orang tua, siswa dan guru sehingga menimbulkan perbedaan motivasi dari ketiganya.

Orang tua yang menganggap matematika itu memang pelajaran yang susah, apalagi mengingat sejak dari dia masih bersekolah dulu, tidak pernah mendapat nilai yang baik, merasa tidak perlu mendorong putra putrinya untuk mempelajarinya lebih baik lagi, apalagi melihat nilai putra putrinya ternyata sudah jauh lebih baik dari dirinya sendiri.


Mungkin pula sebaliknya, justru dulu dia tidak bisa, sekarang anak-anaknya harus bisa. Bahkan sedemikian pentingnya matematika itu, sehingga dia memberi dorongan yang berlebihan. Yang penting harus jadi juara. Mula-mula juara kelas, lama lama juara dunia. Sehingga dengan tidak disadari, dia lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri daripada kepentingan sang anak. Apalagi untuk ingat apakah anaknya itu suka atau tidak terhadap matematika, bahagia atau tidak karenanya, itu tidak penting, sebab seringkali orang tua beranggapan sebagai seorang anak yang baik harus menurut saja apa kata orang tuanya.


Mungkin juga disebabkan oleh guru yang sedemikian terobsesi dengan matematika, sehingga terjebak dalam perolehan angka anak-anak dalam setiap tes yang diberikannya, tidak peduli anak memahami atau tidak, yang penting 'dapat' mengerjakan tes dengan hasil yang bagus, sekalipun dengan jalan tidak jujur. Atau mungkin juga ada rekan guru yang terjebak pemikiran bahwa kita bisa mengajarkan apa saja, kepada anak umur berapa saja asal dengan cerdik.


Kebanyakan guru berhenti mengajar sebatas semua bahan telah selesai diajarkan, dan bukan sebatas sampai anak bisa. Paling jauh sebatas sampai anak mengerti.

Untuk dapat sampai pada batas 'anak bisa', banyak sekali yang harus diusahakan dan dikerjakan, bahkan guru harus merelakan sisa waktunya untuk melengkapi, mengulang, menjelaskan sekali lagi dengan cara yang berbeda, bukan saja berbeda dengan cara yang baru saja diterangkan, tetapi berbeda untuk anak yang satu dengan lainnya, di luar jam sekolah.
Dan juga berusaha untuk mengetahui apa, bagaimana, mengapa dan pada bagian mana anak tersebut 'tidak bisa', agar tepat sasaran dan tidak buang waktu. Untuk itu semuanya, jelas guru tidak bisa atau tidak mau melaksanakannya karena tidak ada waktunya. Karena menurut pepatah: "Time is Money", maka tidak ada waktunya bisa diganti jadi tidak ada duitnya. Bukankah lebih santun mengatakan, maaf tidak ada waktunya, daripada maaf, tidak ada duitnya (?!).

Mungkin juga disebabkan karena anaknya sendiri yang tidak menyukai pelajaran tersebut. Atau mungkin pula pada mulanya dia termotivasi untuk mempelajarinya, namun lama kelamaan menjadi tumpul atau ditumpulkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Oleh saudara-saudaranya yang lebih tua atau kakak-kakak kelasnya di sekolah yang menyatakan matematika itu makin lama akan makin sulit dan itu pasti akan menyengsarakannya.


Mungkin juga karena sudah sedemikian jauh mempelajari matematika, masih belum tahu apa gunanya, seolah-olah matematika itu jauh sekali dari kehidupannya sehari-hari.


Sebetulnya masih banyak lagi sebab untuk itu, seperti misalnya guru kurang mempersiapkan diri dengan baik, beban pengajaran yang tidak merata, pertahapan penyajian materi yang kurang benar, kurikulum yang meragukan, dan sebagainya. Mungkin pula bapak-ibu guru terlalu cepat memberikan penilaian buruk terhadap jawaban anak-anak, sehingga anak-anak terdorong untuk mencari jawaban benar menurut bapak-ibu guru dari pada benar menurut dirinya sendiri.

Lama kelamaan anak-anak pun tidak berani dan tidak mau angkat tangan lagi menjawab pertanyaan guru.

 

Kalau saja dari sejak mula pertama anak diperkenalkan dengan matematika dengan biasa-biasa saja, tidak ditakut-takuti, lebih baik lagi kalau kesan pertamanya mudah dan menyenangkan, saya yakin semua kemelut tentang matematika tidak akan ada, atau setidaknya mudah diatasi.


Bagaimana pendapat Anda ?

Sumber: Facebook Renungan Seorang Guru